FUTURE ISLAMIC EDUCATION PAI, Multikulturalisme, dan Pendidikan Inklusif di Era Global
Description
- Penulis : Dr. Nicky Estu Putu Muchtar, M.Pd., Dr. Hanton, M.A., Dr. Afif Nurseha, M.Pd
- ISBN :
- Copyright © Oktober 2026
- Ukuran: 15.5 x 23 cm
- Hal: 368
- Soft Cover
- Book Paper
- Sinopsis:Buku ini hadir dari kesadaran bahwa pendidikan Islam berada dalam ruang perubahan yang semakin kompleks. Globalisasi, perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, mobilitas sosial, perubahan budaya, serta meningkatnya keberagaman masyarakat telah menghadirkan tantangan sekaligus peluang baru bagi Pendidikan Agama Islam (PAI). Pendidikan Islam tidak lagi cukup hanya membekali peserta didik dengan pengetahuan keagamaan, tetapi juga perlu membangun kemampuan untuk memahami keberagaman, berinteraksi secara inklusif, berpikir kritis, serta mengambil peran dalam kehidupan masyarakat global.
Perubahan tersebut menuntut paradigma pendidikan Islam yang mampu mempertemukan kekuatan tradisi keilmuan Islam dengan kebutuhan masa depan. PAI perlu tetap memiliki fondasi keimanan, akhlak, dan nilai-nilai Islam yang kokoh, tetapi pada saat yang sama harus mampu merespons perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, budaya digital, dan dinamika sosial. Pendidikan Islam masa depan bukanlah pendidikan yang meninggalkan tradisi, melainkan pendidikan yang mampu mengembangkan tradisi secara kontekstual sehingga nilai-nilai Islam tetap relevan dalam menghadapi perubahan zaman.
Dalam konteks masyarakat yang semakin plural, multikulturalisme menjadi salah satu dimensi penting dalam pengembangan pendidikan Islam. Keberagaman agama, etnis, budaya, bahasa, tradisi, kondisi sosial, serta kemampuan peserta didik merupakan realitas yang tidak dapat diabaikan. Pendidikan Islam perlu mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memahami keberagaman sebagai bagian dari kehidupan manusia. Nilai ta‘aruf, tasamuh, ‘adl, rahmah, ukhuwah, ta‘awun, dan musyawarah dapat menjadi landasan dalam membangun budaya pendidikan yang menghargai perbedaan sekaligus tetap memiliki orientasi moral dan spiritual yang kuat.
Pendidikan inklusif memperluas perspektif tersebut dengan menempatkan setiap peserta didik sebagai pribadi yang memiliki martabat, potensi, dan hak untuk memperoleh kesempatan belajar yang adil. Perbedaan kemampuan, kondisi fisik, latar belakang sosial-ekonomi, budaya, bahasa, maupun pengalaman hidup tidak seharusnya menjadi alasan bagi lahirnya diskriminasi dalam pendidikan. Karena itu, pendidikan Islam masa depan perlu bergerak dari paradigma yang hanya berorientasi pada keseragaman menuju pendidikan yang mampu mengakomodasi keberagaman kebutuhan peserta didik. Inklusivitas bukan sekadar persoalan teknis pembelajaran, tetapi merupakan bagian dari komitmen etis pendidikan Islam terhadap keadilan dan kemanusiaan.
Buku ini juga menempatkan digitalisasi dan kecerdasan buatan sebagai bagian penting dari perubahan pendidikan Islam. Teknologi telah mengubah cara peserta didik memperoleh pengetahuan, berkomunikasi, membangun identitas, dan berinteraksi dengan informasi keagamaan. Kehadiran generative artificial intelligence semakin memperluas kemungkinan personalisasi pembelajaran, pengembangan materi, asesmen, dan penciptaan media pendidikan. Namun, teknologi juga membawa persoalan baru berkaitan dengan keakuratan informasi, etika, privasi, ketergantungan teknologi, bias algoritmik, dan otoritas pengetahuan. Oleh karena itu, transformasi digital dalam pendidikan Islam perlu disertai dengan literasi digital, literasi keagamaan, kemampuan tabayyun, dan kesadaran etis agar teknologi digunakan sebagai sarana penguatan pembelajaran, bukan sebagai pengganti nalar dan tanggung jawab manusia.

Reviews
There are no reviews yet.