CRITICAL DIGITAL DISCOURSE ANALYSIS (CDDA) Teori, Metode, dan Aplikasi dalam Era Artificial Intelligence dan Media Digital

Category:
Description

Description

  • Penulis : Dr. Dewi Sari Wahyuni, S.S., M. Pd., Nurianti Sitorus, S.S, M.Hum., Ika Oktaria Cahyaningrum, S.S., M.Hum.
  • ISBN :
  • Copyright © September 2026
  • Ukuran: 15.5 x 23 cm
  • Hal: 254
  • Soft Cover
  • Book Paper
  • Sinopsis:Bahasa dalam lingkungan digital tidak lagi hadir semata-mata dalam bentuk teks tertulis. Wacana digital berkembang melalui perpaduan teks, gambar, video, suara, emoji, tagar, hyperlink, komentar, algoritma, antarmuka, serta berbagai bentuk interaksi pengguna. Media sosial seperti Instagram, TikTok, YouTube, X, dan berbagai platform digital lainnya telah menjadi ruang penting bagi pembentukan identitas, representasi sosial, komunikasi politik, personal branding, pemasaran, pendidikan, hingga perdebatan publik. Pada saat yang sama, algoritma dan sistem kecerdasan artifisial semakin berperan dalam menentukan bagaimana informasi diproduksi, direkomendasikan, diprioritaskan, dan dikonsumsi. Kondisi tersebut menjadikan kajian wacana digital membutuhkan perspektif yang tidak hanya mampu membaca bahasa, tetapi juga memahami konteks teknologi, struktur kekuasaan, ideologi, ekonomi, dan relasi sosial yang menyertainya. Dalam konteks tersebut, Critical Digital Discourse Analysis (CDDA) dapat dipahami sebagai pengembangan perspektif analisis wacana kritis yang memberikan perhatian lebih besar terhadap karakteristik lingkungan digital. CDDA tidak hanya mempertanyakan apa yang dikatakan, tetapi juga bagaimana sesuatu dikatakan, melalui media apa, oleh siapa, kepada siapa, dalam kondisi apa, dengan teknologi apa, serta kepentingan dan relasi kuasa apa yang mungkin bekerja di baliknya. Dengan demikian, analisis wacana digital perlu memperhatikan keterkaitan antara bahasa, multimodalitas, teknologi, platform, algoritma, pengguna, dan struktur sosial yang lebih luas.

    Buku ini hadir untuk memperkenalkan CDDA secara sistematis, mulai dari landasan teoretis hingga penerapannya dalam penelitian empiris. Pembahasan diawali dengan fondasi konseptual mengenai wacana, analisis wacana kritis, dan perkembangan analisis wacana dalam lingkungan digital. Selanjutnya, buku membahas konsep-konsep penting seperti ideologi, kekuasaan, representasi, identitas, intertekstualitas, multimodalitas, dan karakteristik wacana digital. Perspektif Fairclough dan pendekatan kritis lainnya digunakan sebagai pijakan untuk memahami bagaimana bahasa berhubungan dengan praktik sosial, sementara perkembangan teknologi digital memperluas ruang analisis terhadap berbagai bentuk komunikasi kontemporer. Perhatian khusus diberikan pada karakteristik wacana multimodal dan platform digital. Dalam komunikasi digital, makna tidak hanya dibangun melalui kata-kata, tetapi juga melalui visual, warna, tipografi, musik, gestur, tata letak, video, komentar, simbol, serta mekanisme interaksi yang disediakan oleh platform. Oleh karena itu, pembacaan kritis terhadap wacana digital perlu mempertimbangkan hubungan antarmoda tersebut sekaligus memahami bagaimana desain dan affordance platform dapat memengaruhi produksi serta sirkulasi makna.

    Perkembangan Artificial Intelligence menjadi dimensi penting lainnya dalam buku ini. Kehadiran generative AI dan Large Language Models (LLMs) telah memperluas kemungkinan produksi teks, terjemahan, ringkasan, pencarian informasi, pembuatan konten, hingga bantuan dalam proses penelitian. Namun, AI juga menghadirkan persoalan baru mengenai bias bahasa, representasi, otoritas pengetahuan, transparansi, autentisitas, reproduksi ideologi, dan relasi manusia–mesin. Oleh sebab itu, AI dalam perspektif CDDA tidak hanya diposisikan sebagai teknologi yang digunakan untuk membantu analisis, tetapi juga sebagai objek wacana yang perlu dikaji secara kritis. Buku ini juga memberikan perhatian terhadap metodologi penelitian digital. Pembaca diperkenalkan pada berbagai strategi pengumpulan dan analisis data digital, termasuk analisis teks, analisis multimodal, analisis media sosial, analisis korpus, analisis interaksi manusia–AI, serta penggunaan perangkat lunak seperti NVivo, ATLAS.ti, MAXQDA, dan AntConc. Kehadiran perangkat lunak tersebut diposisikan sebagai alat bantu metodologis, bukan sebagai pengganti penalaran kritis peneliti. Data digital tetap membutuhkan proses interpretasi yang reflektif, kontekstual, transparan, dan bertanggung jawab.

    Untuk memperlihatkan relevansi CDDA dalam penelitian nyata, buku ini menghadirkan sejumlah perspektif empiris yang berkaitan dengan komunikasi politik digital, kampanye media sosial, influencer dan personal branding, serta pendidikan digital. Berbagai fenomena tersebut menunjukkan bahwa ruang digital merupakan arena tempat identitas, kepentingan, nilai, dan kekuasaan terus dinegosiasikan. Analisis kritis terhadap fenomena digital dengan demikian dapat membantu peneliti memahami bukan hanya isi komunikasi, tetapi juga mekanisme sosial dan teknologi yang memungkinkan suatu wacana menjadi terlihat, tersebar, diterima, diperdebatkan, atau bahkan terpinggirkan. Lebih jauh, buku ini menempatkan peneliti sebagai bagian penting dalam proses produksi pengetahuan. Teknologi analisis yang semakin canggih tidak serta-merta menjadikan penelitian bebas dari subjektivitas, bias, atau persoalan etis. Penggunaan AI, pengambilan data media sosial, analisis komentar pengguna, maupun pemanfaatan data digital lainnya tetap membutuhkan perhatian terhadap privasi, persetujuan, konteks, keamanan data, transparansi metodologis, dan posisi peneliti. Perspektif kritis mengingatkan bahwa kemampuan teknis dalam mengolah data perlu berjalan beriringan dengan tanggung jawab epistemologis dan etis.

Reviews (0)

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “CRITICAL DIGITAL DISCOURSE ANALYSIS (CDDA) Teori, Metode, dan Aplikasi dalam Era Artificial Intelligence dan Media Digital”

Your email address will not be published. Required fields are marked *